Ngaji Cafe to Cafe Bersama NU, Muhammadiyah, LDII, Pemuka Agama Kristiani Dan Katholik

Ngaji Cafe to Cafe Bersama NU, Muhammadiyah, LDII, Pemuka Agama Kristiani Dan Katholik

Liputan Nusantara – Pasuruan, Sebuah pemandangan yang tidak setiap hari dijumpai tersaji di Cafe Lumbung Nusantara, Kejapanan, Gempol, Kabupaten Pasuruan, Selasa (18/8) malam. Para tokoh dari berbagai organisasi keagamaan dan pemuka lintas agama hadir dalam satu ruang, duduk bersama, menyimak kajian, dan menutup malam dengan doa secara bergantian.

Sekitar 300 jamaah dan masyarakat turut menyaksikan gelaran Ngaji Cafe to Cafe (NCTC) yang kali ini dirangkai dengan tasyakuran Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, santunan anak yatim, sekaligus peresmian Cafe Lumbung Nusantara.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala dan perangkat Desa Kejapanan, Anggota DPR RI dari PAN H. Saiful Nuri, jajaran Nahdlatul Ulama beserta badan otonomnya, Muhammadiyah, LDII, serta pemuka agama dari GKJW, Gereja Rehobot, Gereja Katolik dan Gereja Sion. Sejumlah mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang turut mengambil bagian dalam rangkaian acara.

Namun, bukan semata kehadiran para tokoh tersebut yang membuat malam itu istimewa. Yang lebih penting adalah perjumpaan.

Di tengah masyarakat yang kerap dihadapkan pada perbedaan pilihan, pandangan, bahkan identitas keagamaan, para tokoh tersebut justru memperlihatkan sebuah pesan sederhana: perbedaan tidak harus berujung pada jarak.

Melalui kajian yang disampaikan Gus Romy Syib (GRS), pesan persaudaraan menjadi benang merah sepanjang malam. GRS mengangkat QS Al-Hujurat ayat 13, terutama pesan lita’arafu—agar manusia saling mengenal.

Menurutnya, perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah dalam kehidupan. Yang tidak lumrah adalah ketika perbedaan dijadikan alasan untuk saling merendahkan dan menjauhkan diri. “Kalaupun ada yang berbeda itu lumrah dan harus saling menghormati,” kata GRS.

Suasana semakin menarik ketika GRS menyinggung kehadiran berbagai organisasi Islam dalam satu forum. “Alhamdulillah ternyata Muhammadiyah tidak anti Maulid dan tahlil. Kalaupun ada yang berbeda itu lumrah dan harus saling menghormati,” ujarnya.

Ia kemudian melontarkan satu catatan ringan yang mengundang senyum jamaah. “Yang menarik ternyata pendeta pun bisa menyampaikan Wallahu a’lam, dan bisa assalamualaikum dengan fasih.”

Tawa dan kehangatan pun pecah. Bukan tawa yang menertawakan perbedaan, melainkan tawa yang lahir dari suasana akrab setelah sekat-sekat sosial sejenak mencair.

Puncak acara terjadi ketika para tokoh agama secara bergantian memimpin doa bersama lintas agama.

Satu per satu perwakilan agama menyampaikan doa menurut keyakinannya masing-masing. Tidak ada upaya menyeragamkan keyakinan. Tidak pula ada tuntutan untuk menghilangkan identitas masing-masing.

Yang hadir malam itu justru memperlihatkan wajah lain dari keberagaman: berbeda dalam keyakinan, namun tetap dapat bertemu dalam penghormatan dan kemanusiaan.

Rangkaian acara diawali penampilan Embun Band, dilanjutkan pembukaan, paduan suara mahasiswa KKN UMM, santunan anak yatim, sholawat Nabi, sambutan, kajian dan dialog bersama GRS.

Setelah itu dilakukan pemotongan pita dan tumpeng sebagai simbol peresmian Cafe Lumbung Nusantara. Acara ditutup dengan doa lintas agama dan penampilan duet GRS bersama Embun Band.

Bagi Ngaji Cafe to Cafe, perjumpaan semacam ini merupakan bagian dari semangat menghadirkan dakwah di tengah kehidupan masyarakat.

Cafe tidak lagi sekadar dipandang sebagai tempat menikmati kopi dan berbincang. Ia dapat menjadi ruang untuk bertemu, belajar, berdialog, bahkan merawat persaudaraan.

Malam itu, dari sebuah cafe di Kejapanan, sebuah pesan sederhana menemukan panggungnya:

Persaudaraan tidak selalu membutuhkan kesamaan. Ia hanya membutuhkan kesediaan untuk saling mengenal dan saling menghormati.

Dan mungkin, di tengah riuhnya perbedaan, itulah bentuk kemerdekaan yang paling indah: merdeka untuk berbeda, sekaligus dewasa untuk tetap bersama. ( Dain )