Membangun Budaya Tanggap Bencana di Destinasi Wisata: KKN-P Kelompok 51 UMSIDA Gelar Workshop SPAB Dan Simulasi Penyelamatan Di Dam Payung

Membangun Budaya Tanggap Bencana di Destinasi Wisata: KKN-P Kelompok 51 UMSIDA Gelar Workshop SPAB Dan Simulasi Penyelamatan Di Dam Payung

Liputan Nusantara – Mojokerto, Ancaman bencana alam dapat datang tanpa kompromi, menuntut kesiapan fisik dan mental dari seluruh elemen masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN-P) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) Kelompok 51 Divisi Lingkungan menggelar Workshop Mitigasi Bencana dan Penanggulangan Bencana di kawasan Wisata Dam Payung, Desa Lebakjabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan interaktif ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri atas lintas kelompok mahasiswa KKN-P UMSIDA, warga lokal Desa Lebakjabung, serta para wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Dam Payung.

Pada sesi pertama, narasumber workshop, Satrio Sudarso juga selaku Dosen Pembimbing lapangan Kelompok KKN, membekali peserta dengan prinsip dasar tindakan darurat saat terjadi gempa bumi. Peserta dilatih untuk tidak panik dan secara refleks melindungi organ vital tubuh, terutama kepala, menggunakan kedua tangan atau benda perlindungan terdekat. Sesi ini juga membedah pentingnya penyiapan Tas Siaga Bencana (TSB) mandiri yang berisi kebutuhan dasar darurat:
• Makanan siap saji bernutrisi tinggi dan air minum secukupnya.
• Senter darurat dan baterai cadangan.
• Peluit sebagai alat sinyal komunikasi darurat saat terjebak reruntuhan.
• Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) standar.

Tidak sekadar teori di atas kertas, workshop dilanjutkan dengan simulasi lapangan penanganan korban bencana banjir. Peserta diajarkan teknik evakuasi korban secara aman menuju tempat datar yang bebas dari ancaman air bah.

Narasumber memperagakan langkah krusial saat menemukan korban tidak sadarkan diri dengan denyut nadi lemah, termasuk teknik dasar Resusitasi Jantung Paru (RJP). Praktik langsung ini memberikan pengalaman intuitif bagi peserta agar mampu memberikan pertolongan pertama secara tepat sebelum bantuan medis profesional tiba.

Pelaksanaan workshop ini berlandaskan empat pilar utama mitigasi dan kesiapsiagaan bencana:
• Pengurangan Risiko (Risk Reduction): Mengidentifikasi potensi bahaya di kawasan wisata alam sejak dini.
• Peningkatan Kapasitas Diri (Capacity Building): Mengubah kepanikan menjadi respons refleks yang terukur melalui edukasi SPAB.
• Pertolongan Mandiri & Komunitas: Menjadikan warga dan pengunjung sebagai first responder (penolong pertama) di lokasi kejadian.
• Keberlanjutan Budaya Aman: Mengintegrasikan prinsip keselamatan ke dalam aktivitas pariwisata sehari-hari.

Pelaksanaan kegiatan yang aplikatif ini memantik pandangan positif dan motivasi tinggi dari narasumber, penyelenggara, serta peserta. Satrio Sudarso selaku narasumber dan pakar Kebencanaan mengungkapkan “Prinsip inti dari mitigasi bencana adalah keberlanjutan edukasi dan pembentukan refleks cepat. Bencana mungkin tidak bisa diprediksi secara pasti kapan datangnya, tetapi dampaknya bisa ditekan secara drastis jika masyarakat memiliki pengetahuan dasar dan kapasitas diri yang tangguh” ungkapnya. Melalui pemahaman SPAB dan simulasi langsung ini, kita membangun benteng keselamatan berbasis komunitas. Sedangkan Sumarni selaku warga Desa Lebakjabung sekaligus Peserta Workshop menyatakan”Acara ini sungguh membuka mata kami. Selama ini kalau ada gempa atau air sungai naik, kami sering panik dan bingung harus berbuat apa. Setelah ikut simulasi cara evakuasi korban banjir dan praktik RJP langsung dari pakarnya, kami jadi lebih percaya diri dan paham langkah pertolongan yang benar. Ini ilmu yang sangat berharga untuk keselamatan keluarga kami.” Ujarnya.

Dari perspektif KKN-P Kelompok 51 UMSIDA menjelaskan jika Dam Payung adalah destinasi wisata alam yang indah namun memiliki karakter lingkungan yang dinamis. Dari kelompok KKNP ingin menghadirkan pengabdian yang berdampak panjang. Dengan membekali warga dan pengunjung keterampilan tanggap bencana, diharapkan bersama-sama menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya menawan, tetapi juga aman dan tangguh bencana. Langkah nyata KKN-P-51 UMSIDA ini membuktikan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas lembaga penyelamat, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dibangun melalui edukasi yang kreatif, inklusif, dan menyatu dengan masyarakat. (Satrio)